Dalam sejarah bangsa Indonesia, seni bangunan/ arsitektur mengalami perkembangan sesuai dengan kebutuhan hidupnya. Nenek moyang kita dalam merancang bangun senantiasa mempertimbangkan syarat kenyamanan, kekokohan bangunan dan keindahannya. Syarat tersebut diterapkan pada bangunan baik yang bersifat profan (keduniawian) maupun sakral (suci).

Hasil interaksi Indonesia dengan India dalam bidang arsitektur adalah bangunan candi. Bangunan candi di India berbentuk stupa (Budha), namun di Indonesia dengan pola dasar punden berundak. Bahkan dalam seni bangun candi di Jawa timur, unsur budaya India tidak begitu jelas. Candi di India berfungsi sebagai tempat suci untuk memuja dewa, sedangkan di Indonesia berfungsi sebagai makam. Pola dasar bangunan candi merupakan hasil budaya bangsa Indonesia dari jaman sejarah awal (megalithikum) yaitu punden berundak. Dari aspek ini nampak sekali adanya unsur asli yang tetap digunakan dalam bentuk budaya yang baru.

Istilah candi berasal dari kata“Candhika” , nama dewi Durga sebagai dewi maut. Bangunan candi digunakan untuk memuliakan orang yang sudah meninggal, khususnya raja dan orang terkemuka. Yang dikuburkan (cinandi) bukanlah mayat atau abu jenasah, tetapi berbagai benda yang dinamakan peripih. Peripih dianggap sebagai lambang zat jasmaniah, rohnya telah bersatu dengan dewa penitisnya. Peripih diletakkan dalam peti batu didalam dasar bangunan. Di atas peripih dibuatkan sebuah patung dari raja sebagai dewa, yang menjadi pemujaan (pelajari lebih lanjut dari sumber R.Soekmono Jilid 2, bandingkan dengan sumber R. Sutarno tentang aneka candi kuno).

Secaraumum, bangunan candi dibedakan atas tiga bagian:
a. Subasmen (kaki candi)
Kaki candi terletak di bagian paling bawah, berbentuk persegi dan ditengah-tengah subasmen terdapat lubang/ sumuran untuk menempatkan abu jenasah raja. Dalam susunan bangunan kaki candi terdapat sisi genta terbalik. Tunjukkan dalam salah satu gambar candi !

b. Kamar (dinding/ tubuh candi)
Dinding candi terletak di atas subasmen yang biasanya terdapat arca atau relief. Ruang candi dapat dimasuki dari bagian kaki candi yang bertangga. Tubuh candi terdiri atas sebuah bilik, berisi arca perwujudan. Relung sisi selatan berisi arca Mahaguru, relung utara Durga dan relung belakang Ganeça (untuk candi Hinduistis). Pada dinding candi dapat dijumpai pula relief cerita keagamaan dan hiasan lainnya.

c. Atap candi
Atap candi terletak di atas ruang candi yang tampak melengkung. Atap candi terdiri atas tiga tingkatan, makin ke atas makin kecil. Dilihat dari luar menyerupai gunung dan bertangga. Bagian puncak atap candi terdapat mahkota berupa stupa (Budha) atau lingga-yoni, padma (Hindu). Bagian dalam atap (puncak bilik) terdapat rongga kecil dengan dasar batu segi empat bergambar teratai merah, tahta dewa. Silakan mengamati sisi atap bangunan candi Gedongsongo dari dalam.

Seni bangunan candi di Indonesia berlangsung sejak abad VIII hingga abad XV Masehi dan terpusat di Jawa tengah dan Jawa timur. Adapun candi di Sumatra ditemukan di Sumatra selatan, MuaraTakus dan Padanglawas. Candi di Sumatra umumnya berbentuk stupa (bersifat Budhis) dengan relief Heruka yang sedang menari. Relief ini menunjukkan perkembangan agama Budha aliran Tantrayana. Percandian tersebut didirikan dalam kurun waktu abad XI – XIV Masehi.
Secara umum bangunan candi di Indonesia dapat dibedakan atas dua langgam seni yaitu :
a.Candi langgam Jawa Tengah
Candi langgam Jawa Tengah memiliki ciri khas: berbentuk bangunan agak tambun, atap nyata berundak-undak, puncak atap berbentuk ratna atau stupa, pintu candi terdapat hiasan kala makara, letak candi induk di tengah halaman, bentuk arca dipahat lebih luwes, relief timbul agak tinggi, lukisan naturalistis, kebanyakan menghadap ke timur dan umumnya terbuat dari batu andesit. Contoh : candi Borobudur, candi Sewu, Kalasan, Plaosan Lor dan sebagainya.

b. Candi langgam Jawa Timur (termasuk Sumatra)
Candi langgam Jawa Timur memiliki ciri khas yaitu: berbentuk bangunan ramping, atap merupakan perpaduan tingkatan, puncak berbentuk kubus, pintu masuk terdapat hiasan kala, bentuk arcanya agak kaku, relief timbul sedikit, lukisan bersifat simbolis (wayang), letak candi induk di belakang halaman, kebanyakan menghadap ke barat dan kebanyakan terbuat dari bata. Contoh : candi Kidal, candi Tikus, candi Panataran dan sebagainya.

Apabila ditinjau berdasarkan gaya arsitekturnya, bangunan candi di Indonesia dibedakan atas:

a. Candi gaya kuno tua
Gaya arsitektur kuno tua berlangsung pada abad VIII Masehi, kaki candi tidak terdapat hiasan, tidak terdapat susunan bingkai-bingkai, tidak ada goresan hiasan apapun, misal candi Gunung Wukir, candi Badut dan candi Kalasan. Lakukan pengamatan terhadap salah satu bangunan candi tersebut.

b. Candi gaya kuno muda
Gaya arsitektur kuno muda memilikiciri : berbentuk candi ramping, berlangsung pada pertengahan abad XIII Masehi,kaki bersusun dua, dinding tubuh candi diberi kesan bertingkat dua oleh bingkaisabuk, atap tersusun rapat tidak berkesan berundak-undak, misal candi Jago,candi Kidal, candi Bajang Ratu, candi Panataran dan sebagainya.

Sedangkanberdasarkan tata letaknya, bangunan percandian dibedakan atas:

a. Candi Jawa Tengah selatan
Pola ini memiliki ciri bangunan candi induk berada ditengah-tengah, dikelilingi candi perwara. Hal ini menunjukkan sistem pemerintahan yang terpusat dan bersifat feodal. Bangunan candi pola tersebut meliputi: Kalasan, candi Sari, Borobudur, Mendut, candi Sewu, candi Plaosan, kompleks candi Prambanan. Amati salah satu denah bangunan candi tersebut.

b. Candi Jawa Tengah utara
Bangunan candi dengan pola Jawa Tengah utara berupa gugusan candi yang masing-masing berdiri sendiri yang melambangkan pemerintahan yang demokratis. Bangunan candi yang ada meliputi: candi Gunung wukir, candi Badut (di Jawa Timur), candi Dieng, candi Gedongsongo. Mengapa candi Badut termasuk pola Jawa Tengah utara ?

c. Candi Jawa Timur
Susunan candi Jawa Timur (termasuk pula candi di Sumatra) memiliki ciri bangunan candi induk terletak di bagian belakang halaman. Candi perwara (Pengawal) dan bangunan lain ada di depan. Pola ini menunjukkan pemerintahan federal yang terdiri atas negara-negara bagian dengan otonomi penuh. Pemerintah pusat berdiri di belakang mempersatukan daerah-daerah dalam rangka membentuk suatu kesatuan. Bangunan candi ini meliputi: candi Kidal, candi Jago, candi Jawi, candi Panataran, candi Jabung, candi Muara Takus, candi Gunung Tua.

Berdasarkan sifat keagamaannya, bangunan candi dibedakan atas:
a. Candi Hinduistis
1) Candi berfungsi sebagai makam, dalam sumuran terdapat peripih berisi abu jenasah dan di atasnya terdapat arca perwujudan raja, misal candi Jawi sebagai makam raja Kertanegara sebagai Siwa Budha.
2) Pada ruang dan relung candi terdapat arca mahaguru, Durga dan Ganeça.
3) Puncak atap candi terdapat lingga, padma.
4) Pada dinding candi terdapat relief cerita Hinduistis, misal Ramayana.

b. Candi Budhistis
1) Candi berfungsi sebagai tempat pemujaan dewa, didalam sumuran tidak terdapat peripih dan arca perwujudan raja. Abu jenasah ditanamkan di sekitar bangunan candi dalam bangunan stupa.
2) Pada relung dan ruang candi terdapat arca Sang Budha, Padmapani, Wajrapani.
3) Puncak atap candi terdapat stupa.
4) Pada dinding candi terdapat relief cerita Budhis: Lalitavistara, Jataka

Unsur arsitektur berupa bangunan peninggalan lain yang menyerupai candi diantaranya adalah :

a. Patirtan/ pemandian
Candi patirtan yang terkenal diantaranya candi Jolotundo dan Belahan (lereng gunung Penanggungan), candiTikus (Trowulan) dan Goa Gajah (Gianyar Bali). Bangunan patirtan disusun menyerupai candi, namun fungsi utamanya adalah sebagai tempat pemandian khusus, dimana terdapat pancuran yang jumlahnya ganjil dan sumber air dianggap berasal dari tempat para dewa.

b. Candi padas
Candi padas dapat dijumpai di gunung Kawi, Tampaksiring, yaitu bangunan candi yang dipahatkan seperti relief di tebing padas sungai Pakerisan.

c. Gapura
Gapura berbentuk seperti candi. Pada bagian tubuh candi terdapat jalan keluar masuk, misal candi Jedong, candi Plumbangan dan candi Bajang Ratu. Pada umumnya bangunan ini terdapat di Jawa Timur.

d. Candi bentar
Bangunan candi ini dengan pola dasar gapura berbentuk seperti candi yang dibelah dan sebagai jalan keluar masuk yang disebut candi bentar, misal candi Waringin Lawang dan candi Bentar.

2. Stupa
Stupa digunakan sebagai penggambaran sewaktu Budha masuk nirwana. Bentuk stupa terdiri atas tiga bagian, yaitu:
a. Andah/ anda
Andah merupakan bagian bawah susunan stupa yang menggambarkan dunia bawah, yaitu tempat manusia yang masih dipenuhi hawa nafsu.
b. Yanthra
Yanthra merupakan suatu benda untuk memusatkan pikiran (meditasi).
c. Cakra
Cakra berbentuk mirip payung yang menggambarkan manifestasi tempat para dewa (nirwana).

Sumber Pustaka :
a. Ricklefs, MC.1999. Sejarah Indonesia Modern. Dikmenum. Jogjakarta: Gadjah Mada University
b. EdhieWurjantoro. 1996. Sejarah Nasional dan Umum 1. Jakarta: Depdikbud
c. R. Soekmono.1984. Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia 2. Jogjakarta: Kanisius
d. I WayanBadrika. 2004. Sejarah SMA Kelas XI Program Ilmu Sosial dan Bahasa. Jakarta:Erlangga
e. Matroji. 2007.Sejarah Nasional Kelas 2 Program IPS.Jakarta: Bumi Aksara
f. SartonoKartodirdjo. 1999. Pengantar Sejarah Indonesia Baru: 1500-1900 Jilid 1.Dikmenum. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama

0 comments:

Poskan Komentar

 
Top