Upaya memahami perkembangan kerajaan bercorak Hindu Buddha di Indonesia, memerlukan penguasaan materi secara mendalam. Oleh karena itu, saya mencoba mengulas secara sederhana kerajaan Tarumanegara.


Kerajaan Tarumanegara terletak di daerah Jawa Barat. Ditinjau dari lokasi persebaran prasasti dapat diperkirakan kedudukannya meliputi daerah Bogor (sungai Citarum – sungai Cisadane). Sedangkan daerah kekuasaannya meliputi Banten – Jakarta hingga Cirebon.
Nama Taruma dapat dikaitkan dengan kata tarum yang berarti nila atau biru. Menurut Poerbotjaraka, kata Taruma berasal dari kata tom yang berarti tumbuhan tom yang menghasilkan warna nila atau biru. Tanaman tom banyak terdapat di daerah sepanjang sungai. Hal ini tampak dimana hingga sekarang nama Taruma dipakai sebagai nama sungai yaitu Citarum.
Sumber sejarah Tarumanegara dapat dilihat dari prasasti dan berita Cina. Adapun prasasti yang ada adalah:

        a. Prasasti Ciaruteun
Prasasti ini ditulis dengan bahasa Sanskerta dan huruf Pallawa ditemukan di daerah Bogor, Jawa Barat. Dalam prasasti tersebut  terdapat gambar telapak kaki dan gambar 2 ekor laba-laba. Prasasti ini memuat tulisan: telapak kaki itu, telapak kaki Purnawarman raja Tarumanegara yang seperti telapak kaki Wisnu. Oleh karena itu prasasti ini sering disebut prasasti sang Hyang Tapak.

        b. Prasasti Kebon Kopi
Pada prasasti ini terdapat gambar telapak kaki yaitu gajah Taruma yang disamakan dengan gajah Aerawata milik dewa Indra, namun tidak disebutkan nama rajanya.

        c. Prasasti Tugu
Prasasti ini ditemukan di daerah Cilincing (Jakarta) yang ditulis dengan huruf Pallawa dan bahasa Sanskerta. Prasasti Tugu merupakan sumber informasi yang paling lengkap yang berisi tentang adanya sungai Candra Bhaga yang telah digali rajadiraja. Dari tahun ke 22 masa pemerintahan Purnawarman telah digali sungai Gomati yang panjangnya 6122 tombak (kurang lebih 11 km). Penggalian dilakukan dalam waktu 21 hari, mulai 8 paropetang bulan Phalguna sampai 13 paroterang bulan Caitra. Selanjutnya diadakan selamatan dengan memberikan hadiah 1000 ekor sapi kepada brahmana. Penggalian ini dimaksudkan untuk mengairi lahan pertanian dan untuk pengendalian banjir. Dari upaya ini, dapat diperkirakan bahwa raja Purnawarman dapat menciptakan suasana damai dan tenteram serta berusaha mengembangkan perekonomian kerajaan.

         d. Prasasti Jambu (Koleangkak)
Dalam prasasti ini terdapat gambar sepasang telapak kaki yang dikatakan raja menaklukkan musuh, baju zirahnya tidak dapat ditembus musuh dan memberikan kenangan kepada yang tunduk. Nampaknya prasasti ini dimaksudkan untuk menunjukkan kebesaran dan wibawa raja dan berupaya untuk menghambat keinginan kerajaan lain untuk menyerang Tarumanegara.

         e. Prasasti Cidanghiang
Prasasti ini menggunakan tulisan Pallawa dan bahasa Sanskerta. Prasasti ini memuat tulisan raja Purnawarman sebagai panji.

         f. Prasasti Pasir Awi dan Muara Cianten
            Kedua prasasti ini masih sulit dibaca, dimana hurufnya berbentuk ikal.

         g. Berita Cina
Berita Cina menyebutkan adanya kerajaan Tolomo yang beberapa kali mengirim utusan ke Cina dengan membawa barang dagangan (barang persembahan) gading gajah, cula badak, penyu, emas dan perak (tahun 528-666). Fa hsien pernah  terdampar di Ye-po-ti (Yawadwipa) dalam perjalanan dari India ke Cina (414). Di tempat itu tidak banyak orang yang beragama Budha, namun banyak dijumpai brahmana. Disamping itu masyarakatnya banyak yang menganut agama asli (Kitters).

Dari beberapa sumber tersebut, dapat diambil kesimpulan tentang kehidupan masyarakat Taruma yaitu:
   a.  Mata pencaharian masyarakat meliputi: perdagangan (emas dan perak), peternakan (hadiah 1000 ekor sapi), berburu (gading gajah, cula), pertanian (penggalian sungai Gomati), perdagangan (berita Cina).
    b.  Agama yang berkembang di Taruma yaitu Budha, Hindu aliran Brahma (korban lembu), Hindu aliran Wisnu (tapak kaki dewa Wisnu), Hindu aliran Wisnu (tapak kaki dewa Wisnu) dan kepercayaan asli.

Berdasarkan peninggalan prasasti, hanya diketahui raja yang memerintah adalah Purnawarman. Kehidupan sosial sudah teratur. Kepentingan masyarakat mendapat perhatian besar (lihat pada isi prasasti Tugu). Begitu pula dengan kedudukan kaum brahmana (persembahan 1000 ekor lembu). Kehidupan ekonomi masyarakat dalam bidang pertanian dan perdagangan. Sedangkan bidang budaya, sedikit diketahui bahwa tulisan sudah berkembang dengan baik.

Mengenai akhir kerajaan Tarumanegara ternyata kurang jelas, karena tidak ada berita yang terkait dengan hal tersebut. Ada pendapat yang mengatakan Taruma telah ditaklukkan Sriwijaya. Hal ini didukung oleh bukti prasasti Kota kapur (686) yang memuat Sriwijaya menghukum bhumijawa karena tidak taat kepada Sriwijaya. Disamping itu juga berita Cina yang tidak pernah menyebut lagi adanya utusan datang dari kerajaan Tarumanegara.

Sumber :
diolah dari berbagai sumber pustaka

0 comments:

Poskan Komentar

 
Top