Sebagai kelanjutan dari posting sebelumnya, saya mencoba menganalisis perkembangan kerajaan bercorak Hindu yang lain, dalam hal ini kerajaan Bali.Perkembangan sejarah Bali erat kaitannya dengan sejarah Jawa. Hal ini didasarkan faktor letak geografis yang dekat dan hubungan pemerintahan kerajaan di Jawa timur dan Bali. Meskipun demikian pembahasan sejarah Bali banyak mengalami kesulitan karena tulisan pada lontar banyak disimpan dan dihormati masyarakat Bali.
Sepeninggal raja Sri Ugrasena, maka digantikan wangsa Warmadewa. Adapun raja yang termasuk wangsa Warmadewa yaitu Sang Ratu Sri Aji Tabanendra Warmadewa (955-967). Jayasingha Warmadewa (962 - 975) mendirikan pemandian suci di desa Manukraya (960) yang sekarang disebut Tirtha Empul. Penggantinya, Jayasadhu Warmadewa(975 - 983) dan digantikan Raja Udayana (989-1011) yang menikah dengan putri wangsa Içana (Mahendradatta). Mahendradatta memiliki 3 putra: Airlangga, Marakata dan Anak Wungsu.
Airlangga berkuasa di Jawa, maka penggantinya adalah Marakata Uttunggadewa (1022-1025) yang memerintah dengan melindungi kepentingan rakyat dan berusaha menegakkan hukum. Nama Marakata dimuat dalam prasasti: Baturan, Bila dan Buwahan. Penggantinya, Anak Wungsu (1049-1077) mendirikan 28 prasasti di gua Gajah, Gunung Kawi, Gunung Penulisan dan Saangsit. Masyarakat dibagi atas golongan catur warna dan golongan budak. Dalam masa pemerintahannya, Anak Wungsu dibantu senapati, pendeta Syiwa dan Budha.
Penguasa dari wangsa Warmadewa digantikan raja Sri Walaprabu (1079-1088), Sri Maharaja Sri Sakalendukirana (1098), Sri Suradhipa (1115-1119) dan Sri Jayasakti. Pada masa Sri Jayasakti (1133- 1150) disusun kitab Uttara Widdhi dan kitab Rajaniti (kitab Wacana). Pengganti berikutnya Ragajaya (1155) dan Jayapangus (1177-1181). Sebelum ditaklukkan Majapahit, terdapat beberapa kerajaan di Bali yaitu: Tampaksiring, Ubud, Mengwi, Gianyar, Badung, Tabanan, Jembrana, Klungkung, Karangasem dan Buleleng. Beberapa penguasa berikutnya : Ekalancana (1200 – 1204) yang dibantu ibunya, Sri Maharaja Sryadegjaya, penggantinya Sri Asta Asuratna Bumi Banten (raja terakhir sebelum ditaklukkan Majapahit).
Selama masa pemerintahan keluarga Warmadewa semakin tampak jelas perkembangan pemerintahan dan kebudayaan Jawa di Bali. Perkawinan Dharma Udayana dengan Mahendradatta mempererat hubungan Jawa dengan Bali. Keturunannya memerintah di Jawa timur (Airlangga) dan Bali (Marakata dan Anak Wungsu). Dalam perkembangan berikutnya Bali pernah dikuasai Kertanegara (1284) disusul berikutnya Majapahit.
Dengan runtuhnya Majapahit, banyak orang Majapahit yang melarikan diri ke Bali. Hal ini berakibat penduduk asli (Bali Aga) terdesak ke pedalaman dan sekarang ada di Trunyan (danau Batur) dan Tenganan (Bali bagian timur) yang tetap mempertahankan kebudayaan asli. Masuknya penduduk Majapahit membawa pengaruh sinkretisme Hindu, Budha dan animisme. Dewa dalam agama Hindu Bali diwujudkan sebagai Tuhan Yang Maha Esa dengan sebutan Sang Hyang Widhi Wasa.
Di Bali timbul dewa setempat/ lokal misal dewa air, gunung. Jika di Jawa dapat diidentikkan dengan Grama desa. Dibawah dewa dipuja roh neneka moyang dan cikal bakal. Upacara penghormatan roh leluhur disebut Pitra Yadnya. Bangunan candi didirikan dengan nama Pura Dalem. Tempat suci di Bali dinamakan kuil. Kuil keluarga disebut Sanggah atau Merajan. Kuil sebagai kompleks bangunan disebut pura. Dalam upacara agama dikenal hari raya Galungan dan Saraswati. Upacara pembakaran mayat dikenal dengan Ngaben.
Birokrasi kerajaan Bali meliputi raja dibantu dewan penasehat raja (Panglapuan/ Pasamaksa atau pakiran-kiran I jro makabehan). Dewan ini terdiri atas: senopati (senapati Sarbwa, senapati Dinganga dan senapati Danda) dan majelis pendeta Siwa dan Budha (Dang Acaryya dan Dang Upashyaya).
Kehidupan masyarakat Bali yaitu bercocok tanam (anak thani). Penduduk melaksanakan upacara dengan baik. Ada beberapa istilah dalam pertanian: sawah, parlak (sawah kering), gaga (ladang), kebwan (kebun), mmal (ladang pegunungan), kesuwakan (irigasi sawah). Peternakan berkembang baik meliputi: sapi, babi, ayam, itik, kuda dan kerbau. Mata pencaharian masyarakat telah ada ketrampilan khusus: pande (pande emas, besi, perunggu), undagi kayu (tukang kayu), undagi lincang ( tukang perahu), amahat (pemahat). Sistem pajak, iuran, bea cukai dan denda telah diterapkan. Bidang seni berkembang dengan bukti adanya istilah patapukan (atapuk, topeng), pamukul (penabuh gamelan), abanwal (permainan badut), abonjing (musik angklung), bhangin (peniup suling) dan perbwayang (permainan wayang).
Pada masa pemerintahan Anak Wungsu, golongan masyarakat Bali dibedakan atas dua bagian yaitu catur warna (brahmana, ksatria, waisya dan sudra) dan golongan luar kasta (budak/ jaba). Jaba tidak sama dengan sudra, sebab tidak mau dianggap golongan terendah dan merasa terhina. Sehingga masyarakat Bali mengenal triwangsa (brahmana, ksatria dan waisya) dan jaba ( di luar kasta). Urutan anak dikenal dengan wayan, made, nyoman dan ktut.
Sistem pembagian warisan mengenal “sistem tiga bagian”. Hak anak laki-laki lebih besar daripada hak perempuan atas warisan (bandingkan dengan sistem yang berlaku di daerah anda). Sedangkan bentuk kesenian dibedakan atas seni kraton dan seni rakyat. Namun seni kraton bukanlah monopoli raja, masyarakat boleh menikmatinya.

0 comments:

Poskan Komentar

 
Top