Kesultanan Banten terletak di wilayah provinsi Banten sekarang. Oleh Faletehan, daerah Banten dikembangkan sebagai pusat perdagangan dan penyiaran agama Islam. Sesudah tahun 1511 dimana bandar Malaka dapat dikuasai Portugis, membawa akibat Banten berkembang menjadi pelabuhan internasional. Faktor pendukungnya adalah:
a.Sebagai penghasil lada dan pelabuhan lada ( Lampung dan pedalaman Banten).
b.Islamisasi di Banten menjadikan Banten sebagai pusat politik kerajaan Banten.
c.Merupakan pelabuhan penting di selat Sunda bagi pelayaran dari dan ke barat, terutama setelah Malaka dikuasai Portugis.
d.Pelabuhan Banten terlindung pulau Panjang sehingga memiliki syarat sebagai pelabuhan yang baik.

Ibukota kerajaan semula di Banten Girang, kemudian dipindah ke Surosowan yang lebih dekat dengan pantai. Dari sudut politik dan ekonomi, dimaksudkan untuk memudahkan hubungan antara pesisir utara Jawa dengan pesisir Sumatra melalui selat Sunda dan lautan Indonesia. Dengan dikuasainya Malaka oleh Portugis,  makin memperkuat keberadannya. Penguasa kerajaan Banten secara kronologis yaitu:
Maulana Hasanuddin, Maulana Yusuf (1570-1580), Maulana Muhammad (1580-1596), Abdul Mufakir Mahmud Abdul Kadir (1596-1640), Abu Maa’li Ahmad Rahmatullah (1640-1651), Abdul Fath Abdul Fatah/ Sultan Ageng Tirtayasa (1651-1682), Abdul Nasr Abdulkahar (1682-1687), Abdul Faddal (1687-1690) dan Abdul Mahasin Zainul ‘Abidin (1690-1733).

Kehidupan sosial masyarakat sangat maju. Kerajaan Banten mengembangkan sistem perdagangan bebas. Sebagai kerajaan maritim, tidak banyak diketahui bentuk budayanya. Dalam bidang seni bangunan dapat dijumpai Masjid Agung Banten, bangunan istana Surosowan dan bangunan gapura di Kaibon.
Kerajaan Banten mengalami kemunduran sejalan dengan masuknya VOC  melalui perjanjian Banten (1684). Hal ini berakibat kerajaan Banten kehilangan peranan sebagai pelabuhan bebas dan tingkat kemakmuran penduduk Banten merosot tajam.

0 comments:

Poskan Komentar

 
Top