Kolonialisme berasal dari kata colonus yang berarti petani. Pada awalnya petani Yunani pindah dari negaranya yang tandus ke daerah lain yang subur. Daerah tersebut dinamakan koloni. Hubungan daerah koloni dengan negara asal (motherland) masih ada. Negeri induk memandang daerah koloni seperti bagian dari negerinya, sehingga muncul pengertian penjajahan. Imperialisme berasal dari kata imperium yang berarti daerah raja (emperor). Keinginan menjadikan daerah lain menjadi milik raja menimbulkan imperialisme.

Berkembangnya kolonialisme dan imperialisme dilatarbelakangi berbagai faktor dalam pertumbuhan yang cukup lama. Imperialisme adalah paham yang menghendaki penguasaan atas wilayah bangsa dan negara lain untuk kepentingan negara induk. Imperialisme terdiri atas beberapa macam.

a. Berdasarkan waktu
1) imperialisme kuno atau ancient imperialism yaitu imperialisme yang berlangsung sebelum Revolusi Industri dengan tujuan mencapai kejayaan (glory), kekayaan (gold) dan gospel (menyebarkan agama), misal Portugis dan Spanyol.
2) imperialisme modern atau modern imperialism yaitu keinginan mencari daerah jajahan karena kepentingan ekonomi dan industri, misal Inggris.

b. Berdasarkan tujuan penguasaannya:
1) imperialisme politik yaitu upaya untuk menguasai seluruh kehidupan dari negara lain.
2) imperialisme ekonomi yaitu upaya untuk dapat menguasai perekonomian negara lain dengan cara menciptakan zona ekonomi.
3) imperialisme kebudayaan yaitu upaya untuk menguasai mentalitas dan jiwa negara lain.
4) imperialisme militer yaitu upaya untuk menguasai daerah dari negara lain yang dianggap strategis dengan menggunakan kekuatan militer, misal politik air hangat Rusia, Lebensraum Jerman, Pan Amerika dari USA.

Faktor yang menyebabkan timbulnya kolonialisme dan imperialisme dapat dibedakan atas : faktor kekuasaan, ekonomi / kekayaan, ideologi/ agama dan faktor militer. Dalam kenyataannya, imperialisme dilakukan atas dorongan beberapa faktor. Jarang terjadi karena satu faktor saja, karena kepentingan imperialis sangat kompleks.

Adapun faktor yang mempengaruhi bangsa Portugis ke daerah kepulauan rempah-rempah adalah faktor ekonomi, agama dan petualangan (avonturir). Bangsa Eropa mulai menyusuri pantai barat Afrika, belok menyusuri pantai timur Afrika dan ke utara. Faktor petualangan mendorong keinginan untuk menjelajah lautan, tempat yang belum dikenal.

Perkembangan teknologi pelayaran dengan penemuan daerah baru berakibat bangsa Eropa memperluas ekspansinya. Portugis dan Spanyol merintis dengan tokoh Bartholomeus Diaz dan Vasco da Gama. Portugis mendirikan kantor dagang di Goa (India) dan diikuti bangsa Eropa yang lain, misal Spanyol, Inggris, Belanda.

Dalam akhir abad XVI dan awal abad XVII orang Inggris, Belanda, Denmark dan Perancis datang ke Indonesia. Mereka memiliki motif yang sama yaitu untuk menguasai monopoli perdagangan terutama rempah-rempah. Hal ini menimbulkan reaksi dari kerajaan di Indonesia.  Muncul berbagai perlawanan dari kerajaan di Indonesia dan Asia Tenggara. Motif kedatangan orang Belanda hampir sama dengan Portugis. Adapun motifnya yaitu ekonomi dan petualangan.

Sebagai pelaksanaan dari merkantilisme dan untuk menghindari persaingan antar pedagang Belanda maka dibentuk kongsi Verenigde Oost Indische Compagnie (VOC) pada 20 Maret 1602. VOC memiliki hak Octrooi yang memungkinkan VOC sebagai wakil pemerintah Belanda di Asia dan daerah di luar negeri Belanda. Untuk mengurusi dagangnya, VOC mendirikan kantor dagang di berbagai daerah di Indonesia misal Banten, Gresik, Banda, Ternate.

Keinginan VOC untuk menguasai monopoli perdagangan menimbulkan reaksi perlawanan di berbagai daerah di Indonesia, misal Aceh, Malaka, Mataram, banten, Gowa, Banjar. Namun perlawanan tersebut mengalami kegagalan. Hal ini disebabkan persenjataan dan teknologi yang tidak seimbang dan di kalangan kerajaan-kerajaan itu justru terjadi perpecahan atau perebutan kekuasaan.

Dengan siasat devide et impera, VOC berhasil menanamkan kekuasaan di kerajaan-kerajaan Indonesia, sehingga tujuan perdagangan makin berkembang dalam bidang politik. Wilayah kekuasaan yang sedemikian luas memerlukan penanganan yang lebih besar, namun VOC tidak mampu. Bahkan VOC mengalami kerugian pada akhir abad XVIII. Sehingga VOC dibubarkan dan segala sesuatunya diambil alih pemerintah Belanda. Sejak abad XIX, bangsa Indonesia mulai menghadapi politik kolonial Belanda. Hal ini juga menimbulkan reaksi perlawanan di daerah selama abad XIX.

Perkembangan teknologi industri membawa pengaruh besar terhadap imperialisme. Usaha untuk mencari ruang lingkup dan gerak bagi industri (bahan baku dan pemasaran produk) memunculkan bentuk imperialisme modern. Negara imperialis berlomba mengembangkan diri di bidang industri yang dimulai pada pertengahan abad 19.  Banyak negara barat mencapai perkembangan pesat dan mulai mengalami kelebihan modal, misal Inggris, Perancis, Jerman dan sebagainya.  Kondisi ini mendorong negara imperialis untuk mengubah pola imperialismenya dengan lebih menitikberatkan untuk bidang industri. Hal ini ditandai dimana pada masa berikutnya daerah jajahan baik Asia maupun Afrika akan menjadi obyek untuk menanamkan modal para kapitalis barat.   

Perluasan kekuasaan tersebut berpengaruh terhadap perubahan struktur sosial masyarakat Indonesia. Bangsa Indonesia yang semula menjadi penguasa dan bebas melakukan pelayaran perdagangan di Indonesia, berubah menjadi daerah taklukan dan perdagangan dibatasi. Pelayaran perdagangan ditekan sedemikian rupa oleh Belanda agar tidak menghambat praktik monopoli yang dilakukan Belanda.   

Adapun perluasan kolonial menimbulkan perubahan sebagai berikut:
a. Bidang politik
Makin intensifnya intervensi Belanda dalam masalah intern penguasa pribumi, menyebabkan kekuasaan Belanda makin besar. Kekuasaan penguasa pribumi makin berkurang. Penguasaan wilayah oleh Belanda menyebabkan penguasa pribumi kehilangan penghasilannya.

b. Bidang sosial ekonomi
Penguasa pribumi berfungsi sebagai alat pemerintah kolonial, penghasilan berkurang. Rakyat dibebani berbagai pajak dan aturan yang berat.

c. Bidang budaya
Kehidupan rakyat mulai terpengaruh budaya Barat, misal gaya hidup, cara berpakaian. Budaya kraton mulai berkurang pengaruhnya. Tradisi keagamaan rakyat mulai terancam. Muncul kegelisahan dan kebencian rakyat terhadap kolonial Belanda. Sehingga melahirkan berbagai perlawanan menentang kolonial Belanda.

0 comments:

Poskan Komentar

 
Top