Sejarah adalah ilmu pengetahuan yang berusaha mempelajari berbagai peristiwa atau kejadian penting dalam kehidupan manusia pada masa lampau. Dengan demikian, sejarah memiliki tiga unsur pokok : manusia, ruang, dan waktu.

Berdasarkan asumsi di atas, dapat dikatakan sejarah manusia adalah sebuah proses perjalanan yang panjang dalam sebuah garis waktu sejak jaman dulu, sekarang dan jaman yang akan datang.

Menurut Sartono Kartodirdjo, pada hakikatnya sejarah dibatasi oleh dua pengertian, yaitu sejarah obyektif dan sejarah subyektif. Sejarah obyektif merupakan peristiwa atau kejadian pada masa lampau apa adanya. Sedangkan sejarah subyektif ialah hasil rekonstruksi / interpretasi sejarawan atas peristiwa masa lampau tersebut.

Sejarah yang selama ini dapat kita baca dan pelajari pada dasarnya merupakan sejarah hasil rekonstruksi sejarawan (sejarah subyektif). Timbul pertanyaan, bagaimanakah sejarah yang sesuai untuk mengetahui perkembangan suatu masyarakat/ bangsa ? Penafsiran para sejarawan tentang peristiwa masa lampau diharapkan dapat menggambarkan peristiwa tersebut apa adanya atau obyektif. Obyektif artinya peneliti menghasilkan temuan yang sedekat mungkin dengan kenyataan aktual dari peristiwa yang diteliti. Ini merupakan kewajiban etis sekaligus tantangan utama bagi setiap orang yang meneliti suatu peristiwa sejarah.

Untuk mencapai obyektivitas, sejarawan menggunakan metode ilmiah untuk menguji kesahihan bukti-bukti yang ada, mengecek kebenarannya, membandingkannya dengan temuan lain, dan sebagainya.

Dalam upaya penulisan sejarah yang obyektif, ada tiga faktor yang dapat menghambat terwujudnya obyektivitas sejarah yaitu :
1. Penelitian sejarah melibatkan kepentingan tertentu, misal politik, ekonomi, dan sosial budaya. Dari kepentingan inilah, peneliti secara sadar dan sengaja “membelokkan” atau memutarbalikkan fakta sejarah.
2. Peneliti memasukkan perasaan, nilai, selera atau ideologi pribadinya ke dalam proses penelitiannya.
3. Peneliti tidak menguasai bidang yang ditelitinya.

Sejarah yang kita jumpai saat ini, merupakan hasil interpretasi sejarawan, dimana setiap peneliti memiliki sudut pandang yang berlainan terhadap peristiwa yang sama. Oleh karena itu, kebenaran dalam sejarah tidak statis, melainkan dinamis. Hasil penelitian yang ada bersifat terbuka untuk dipertanyakan, diperdebatkan, digugat, sehingga melahirkan sudut pandang yang baru terhadap peristiwa yang sama.

Sebagai gambaran, kita melihat bagaimana kolonial Belanda memandang tokoh seperti pangeran Diponegoro, sultan Ageng Tirtayasa, Teuku Umar, Cut Nya’ Dien, Christina Marta Tiahahu dan sebagainya. Belanda memandang mereka sebagai pemberontak, melawan kekuasaannya. Hal ini dijadikan alasan untuk menangkap, memenjarakan bahkan membinasakan. Bagaimana halnya dengan sudut pandang bangsa Indonesia ?  Tokoh tersebut dianggap sebagai pahlawan pada jamannya terhadap pemerintah kolonial Belanda yang menjajah Indonesia.
 

Dalam konteks ini timbul pertanyaan, bagaimana halnya dengan tokoh yang oleh Belanda disanjung atau dianggap penting bagi mereka (Belanda), namun tetap diakui pada jaman sekarang. Inilah tantangan bagi sejarawan atau peneliti untuk mengungkap peristiwa sejarah secara obyektif.

0 comments:

Poskan Komentar

 
Top