Dalam masyarakat dewasa ini, struktur sosial yang terbentuk makin lama makin kompleks. Struktur sosial yang ada dapat berupa diferensiasi sosial atau stratifikasi sosial. Era globalisasi dan iklim keterbukaan dalam masyarakat, mendorong berkembangnya stratifikasi sosial yang lebih spesifik. Untuk mempelajari lebih lanjut mengenai stratifikasi sosial atau pelapisan sosial dalam suatu masyarakat, ada baiknya kita pahami lebih dahulu konsep dasar stratifikasi sosial.

Pengertian Stratifikasi sosial atau pelapisan sosial sering dikenal dengan istilah social stratification. Secara umum, stratifikasi sosial merupakan pembedaan warga masyarakat secar vertikal atau bertingkat. Ada beberapa pendapat mengenai pengertian stratifikasi sosial.

Pitirim A. SorokinPelapisan sosial adalah pembedaan penduduk atau masyarakat ke dalam kelas-kelas secara bertingkat atau hierarkhis.

PJ. BoumanPelapisan sosial atau stratifikasi sosial didefinisikan sebagai golongan manusia yang ditandai dengan suatu cara hidup dalam kesadaran akan beberapa hak istimewa tertentu.

Soerjono SoekantoStratifikasi sosial adalah pembedaan posisi seseorang atau sekelompok orang dalam kedudukan yang berbeda secara vertikal.

Kamanto SoenartoStratifikasi sosial adalah pembedaan anggota masyarakat berdasarkan status yang dimilikinya.

Bruce J. CohenStratifikasi sosial adalah sistem yag menempatkan seseorang sesuai dengan kualitas yang dimiliki dan menempatkan mereka pada kelas sosial yang sesuai.       

Dari beberapa pengertian tersebut dapat disimpulkan bhawa stratifikasi sosial adalah proses pembedaan anggota masyarakat ke dalam kelas sosial secara bertingkat dari terendah hingga tertinggi dengan dasar tertentu.

Proses terjadinya pelapisan sosialSecara sosiologis, setiap masyarakat akan menunjukkan adanya pelapisan sosial. Masyarakat Indonesia yang memiliki ciri masyarakat agraris, juga menunjukkan kecenderungan tersebut. Munculnya stratifikasi sosial dalam setiap masyarakat dimungkinkan karena danya sesuatu yang dihargai. Sesuatu tersebut dapat berupa uang, benda (ekonomi), tanah, kekuasaan, keturunan, iptek dan ketaatan beragama.

Terbentuknya pelapisan sosial telah diawali sejak manusia mengenal adanya kehidupan bersama dalam organisasi sosial. Pada masyarakat sejarah awal, taraf kebudayaannya masih sederhana. Pelapisan sosial yang disusun didasarkan pada jenis kelamin, usia, kepandaian atau kekayaan. Sejalan dengan perkembangan kehidupan masyarakat yang makin kompleks, maka pelapisan sosial yang terbentuk juga makin beragam. Secara umum sistem pelapisan sosial dalam masyarakat terjadi melalui dua proses.
 
1. Pelapisan sosial yang terjadi dengan sendirinyaProses ini akan terjadi seiring dengan pertumbuhan dan perkembangan masyarakat. Di sisi lain, masyarakat tidak menyadari jika telah menciptakan kondisi. Pelapisan sosial yang terjadi dengan sendirinya, didasarkan pada tingkatan usia, jenis kelamin, kepandaian, keluarga (kepala masyarakat) dan harta atau kekayaan.
Adapun ciri pelapisan sosial yang terbentuk adalah :
1) Stratifikasi terbentuk sejalan dengan perkembangan masyarkat.
2) Stratifikasi sosial terbentuk di luar kontrol dari masyarakat yang bersangkutan.
3) Stratifikasi sosial sesuai dengan kondisi sosial budaya di wilayah yang bersangkutan.
4) Kedudukan seseorang dalam suatu lapisan sosial berlangsung secara otomatis.


2. Pelapisan sosial yang sengaja dibentuk untuk mencapai tujuan bersamaPelapisan sosial yang sengaja dibentuk untuk mencapai tujuan bersama. Pelapisan sosial dapat berkaitan dengan pembagian kekuasaan dan wewenang resmi dalam organisasi formal. Diantaranya organisasi pemerintahan, perusahaan, partai politik, dan sebagainya. Dalam sistem pelapisan sosial ini terdapat berbagai cara untuk menentukan atau menetapkan seseorang, misal melalui upacara peresmian, lemberian lambang/ tanda kedudukan dan kekuasaan dan wewenang sesuai hak dan kewajibannya.

Dasar pelapisan sosialPelapisan sosial merupakan gejala universal. Dalam pengertian, bahwa dalam setiap masyarakat selalu ditemukan pelapisan sosial. Selo Soemardjan dan Soelaiman Soemardi mengemukakan bahwa selama dalam masyarakat ada sesuatu yang dihargai, maka dengan sendirinya pelapisan sosial akan terjadi. Hal ini sejalan dengan pendapat Jefta Leibo yang menandaskan bahwa sesuatu yang dihargai itu dapat berupa harta kekayaan, ilmu pengetahuan, kehormatan, atau kekuasaan.

Anggota masyarakat yang mempunyai sesuatu yang berharga dengan jumlah banyak, akan dianggap orang yang menduduki lapisan atas. Sedangkan mereka yang memiliki dalam jumlah lebih sedikit akan menduduki pelapisan yang lebih rendah. Ukuran yang biasanya dipakai untuk menggolongkan anggota masyarakat ke dalam lapisan sosial adalah :

1. ukuran kekayaanKekayaan (materi) dapat digunakan sebagai ukuran penempatan status lapisan seseorang dalam masyarakat. Orang yang memiliki materi paling banyak, akan menempati pelapisan sosial yang paling tinggi.
       
2. ukuran kekuasaan dan wewenangKedudukan dan status seseorang akan berkaitan erat dengan wewenang dan kekuasaan. Sehingga orang yang memiliki kekuasaan dan wewenang akan berada pada lapisan sosial yang lebih tinggi dalam kelompoknya.

3. ukuran kehormatanAnggota masyarakat yang disegani oleh anggota kelompoknya dalam masyarakat akan menempati lapisan atas. Hal ini berarti ukuran kehormatan tidak berkaitan dengan ukuran kekayaan atau kekuasaan. Pola semacam ini dapat dijumpai dalam masyarakat tradisional. Misal pemimpin agama, pemimpin adat dan kepala suku.
 
4. ukuran ilmu pengetahuanSejalan dengan perkembangan masyarakat, pelapisan sosial diwujudkan dalam perbedaan penguasaan ilmu pengetahuan (dan teknologi). Anggota masyarakat yang menguasai ilmu pengetahuan akan menempati posisi paling tinggi dalam struktur pelapisan masyarakat, misal gelar akademik S1, S2 atau S3.

Sifat pelapisan sosialPelapisan sosial yang terbentuk dalam masyarakat ada beberapa sifat.

1. Sistem pelapisan sosial tertutupSifat pelapisan sosial tertutup atau close social stratification memiliki ciri membatasi kemungkinan berpindahnya seseorang dari satu lapisan ke lapisan yang lain, baik mobilitas vertikal naik ataupun ke bawah. Status seseorang diperoleh melalui kelahiran, bersifat turun temurun dan berlaku seumur hidup. Hal ini dapat dijumpai dalam masyarakat kasta di India. Soerjono Soekanto memperinci ciri masyarakat kasta di India sebagai berikut :
1) Keanggotaan diperoleh melalui warisan dan kelahiran, sehingga seorang anak memiliki kasta yang sama dengan orang tuanya.
2) Keanggotaan dalam kasta berlaku seumur hidup, sehingga seseorang tidak mungkin mengubah kedudukannya kecuali apabila dikeluarkan atau dikucilkan.
3) Perkawinan bersifat endogami, yaitu seseoran hanya dapat menikah dari kasta yang sama.
4) Hubungan antara kasta yang satu dengan kasta yang lain terbatas.
5) Kesadaran dan kesatuan suatu kasta, identitas anggota kasta, penyesuaian diri yang ketat terhadap norma-norma kasta.
6) Kasta terikat oleh kedudukan yang secara tradisional telah ditentukan.
7) Prestise dari suatu kasta benar-benar dijaga dan diperhatikan.
8) Kasta yang lebih rendah merupakan bagian dari kasta yang lebih tinggi.

2. Sifat pelapisan sosial terbukaSifat pelapisan sosial terbuka atau open social stratification memberikan kesempatan yang luas kepada setiap anggota masyarakat untuk berpindah dalam menempati lapisan. Pelapisan sosial terbuka merupakan sifat pelapisan yang banyak dijumpai dalam masyarakat industri dan masyarakat modern yang maju. Setiap individu memiliki kesempatan yang sama untuk melakukan mobilitas sosial sesuai dengan kemampuan dan kreativitas mereka. Dengan demikian sistem pelapisan sosial terbuka memberikan perangsang lebih besar kepada setiap anggota masyarakat untuk dijadikan dasar perkembangan lebih lanjut. Sifat demikian tidak berarti pelapisan sosial berlaku permanen atau seumur hidup, melainkan hanya bersifat sementara. Jika seseorang dapat meningkat kedudukannya, tetapi juga dapat turun ke pelapisan sosial yang lebih rendah bagi mereka yang tidak cakap atau beruntung. Prestise dari kelompok tidak mengikat dan ciri eksklusif dari lapisan sosial masih nampak.

3. Sifat pelapisan sosial campuranSifat pelapisan sosial campuran atau mixed social stratification dapat diartikan sebagai pelapisan sosial yang membatasi kemungkinan berpindah lapisan pada bidang tertentu. Di sisi lain, membiarkan untuk melakukan perpindahan lapisan pada bidang yang lain. Pelapisan sosial ini dapat dijumpai dalam masyarakat Bali dan masyarakat transisi.

Bentuk pelapisan sosial
Pelapisan sosial berkaitan erat dengan pembagian kelas dan golongan. Hal ini nampak dari bentuk stratifikasi sosial berikut.

1. Stratifikasi sosial berdasarkan kriteria ekonomiKriteria ekonomi untuk membedakan anggota masyarakat berupa penguasaan dan kepemilikan materi. Anggota masyarakat dibedakan menjadi beberapa lapisan dengan ukuran penghasilan, kekayaan, dan pekerjaan. Jika dikaitkan dengan ekonomi dijumpai dengan istilah kelas sosial, yaitu :
1) kelas atas (upper class)
2) kelas menengah (middle class)
3) kelas bawah (lower class)
masing-masing kelas sosial masih dapat dibagi menjadi beberapa sub kelas sosial, misal kelas atas dibedakan menjadi kelas atas atas, kelas atas menengah dan kelas atas bawah, dan sebagainya.
   
2. Stratifikasi sosial atas dasar kriteria politikKriteria politik dapat beruoa lapisan sosial yang membedakan anggota masyarakat berdasarkan pembagian kekuasaan. Kekuasaan yang dimiliki seseorang harus dibagi secara teratur untuk menghindari pertentangan yang dapat membahayakan masyarakat.

3. Stratifikasi sosial berdasarkan kriteria sosialBerdasarkan kriteria sosial, lapisan sosial mengukur dan menempatkan seseorang ke dalam status dan kedudukan tertentu berdasarkan nilai status sosial seseorang. Kriteria ini timbul sejalan dengan pemberian status dan penghormatan terhadap seseorang yang berbeda dengan orang lain. Status sosial dalam masyarakat tidak hanya ditentukan oleh faktor pekerjaan atau  materi, tetapi juga aspek gengsi atau prestise. Faktor inilah yang menyebabkan seseorang berusaha mengejar status sosial dlam masyarakat.

Fungsi stratifikasi sosialStratifikasi sosial yang mengalami perkembangan sejalan dengan perubahan kehidupan masyarakat, memiliki fungsi :
a. Distribusi hak istimewa yang obyektif, misal menentukan penghasilan, tingkat kekayaan, keselamatan dan wewenang.
b. Sistem pertanggaan pada strata yang diciptakan masyarakat yang menyangkut prestise dan penghargaan
c. Kriteria sistem pertentangan, yaitu apakah diperoleh melalui kualitas pribadi, keanggotaan kelompok, kerabat, milik, wewenang dan kekuasaan.
d. Penentu lambang/ simbol atau kedudukan seperti tingkah laku, cara berpakaian, dan sebagainya.
e. Tingkat mudah dan sukarnya bertukar kedudukan.
f. Alat solidaritas antar individu atau kelompok yang menduduki sistem sosial yang sama dalam masyarakat.

Demikian, semoga bermanfaat bagi anda dalam memahami konsep stratifikasi sosial. Terima kasih.

0 comments:

Poskan Komentar

 
Top